Kiss Andy: Ah, Dasar Utopia


andybhatara:

Tahukah kamu, pahitnya rasa rindu? Rindu yang meradang di jiwamu? Meskipun kau memenjarakan rasanya hingga jemu, dan bercampur dengan pahitnya rasa sabar, tidak akan pernah rasanya hilang dari dada dan mengikis semua kesedihan.

Mereka bilang kepadaku, bahwa dalam diriku ada kemurungan. Sebenarnya mereka benar, tapi hanya kau yang tahu sebabnya. Aku memilih untuk disibukkan dengan hari-hariku, daripada diam dalam kesendirian dan tinggal dalam rumahku yang di dalamnya ada rasa tentram dan banyak kenangan bersamamu di setiap petaknya.

Aku takut, ya aku jujur aku takut, aku takut mengingatmu hingga terlalu dalam dan hatiku tertutup oleh air mata sampai aku lelah terlelap. Mereka bertanya, bagaimana keadaanmu, kujawab, baik. Semua kebutuhannya terpenuhi dan tak kekurangan apa-apa, tapi pertanyaan itu sekaligus menyesakkan dada.

Kukatakan pada kalbu, semoga kamu datang satu hari di depan pintu rumahku, dengan cukup membawa senyuman manismu dan waktu untuk menemaniku, sehingga kekasihku bukan buku-buku dan lentera malam, tapi kamu yang duduk disisiku, sambil berselonjor menikmati sapaan sinar rembulan dan taburan bintang. Diiringi dendangan lagu-lagu yang biasa kita putar meskipun tidak terlalu kita suka.

Ah, dasar utopia.

Tapi aku tak bisa melanjutkan tulisan ini, aku tidak mau bersedih terlalu larut, karena dulu aku pernah bilang kepadamu dan pasti kamu selalu ingat.

“Kalau kau memberikan aku seratus alasan untuk bersedih, aku akan memberikanmu seribu alasan untuk tetap tersenyum”

Tenang, aku masih tersenyum.

Andy Bhatara, 2011

  1. chliuly reblogged this from andybhatara and added:
    larut Dedicated To U : ** yes U hun ** bye...
  2. bukandanny reblogged this from andybhatara
  3. naiadyn reblogged this from andybhatara
  4. harunsaurus said: terus nulis ya, Bhatara. saya mau jadi saksi kamu menggantikan Goenawan Mohamad.
  5. andybhatara posted this